Senin, 07 November 2011

Diet pada Penderita ASMA

Apa sih ASMA itu???
Angka kejadian penyakit alergi akhir-akhir ini meningkat sejalan dengan perubahan pola hidup masyarakat modern, polusi baik lingkungan maupun zat-zat yang ada di dalam makanan. Salah satu penyakit alergi yang banyak terjadi di masyarakat adalah penyakit asma. 
“Asma adalah obstruksi jalan nafas yang bersifat reversibel, terjadi ketika bronkus mengalami inflamasi/peradangan dan hiperresponsif (Guyton & Hall 1997).” 
Asma adalah satu diantara beberapa penyakit yang tidak bisa disembuhkan secara total. Kesembuhan dari satu serangan asma tidak menjamin dalam waktu dekat akan terbebas dari ancaman serangan berikutnya. Apalagi bila karena pekerjaan dan lingkungannya serta faktor ekonomi, penderita harus selalu berhadapan dengan faktor alergen yang menjadi penyebab serangan. Biaya pengobatan simptomatik pada waktu serangan mungkin bisa diatasi oleh penderita atau keluarganya, tetapi pengobatan profilaksis yang memerlukan waktu lebih lama, sering menjadi problem tersendiri. Asma dapat bersifat ringan dan tindak mengganggu aktifitas, namun asma juga dapat bersifat menetap dan mengganggu penderitanya dalam beraktifitas sehari-hari. 
ASMA dalam angka
Berdasarkan laporan Heru Sundaru (Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM), prevalensi asma di Bandung (5,2%), Semarang (5,5%), Denpasar (4,3%) dan Jakarta (7,5%). Secara nasional, 10 kabupaten/kota dengan prevalensi penyakit Asma tertinggi di Indonesia adalah Aceh Barat (13,6%), Buol (13,5%), Pohuwato (13,0%), Sumba Barat (11,5%), Boalemo (11,0%), Sorong Selatan (10,6%), Kaimana (10,5%), Tana Toraja (9,5%), Banjar (9,2%), dan Manggarai (9,2%) (DepKes R.I. 2009).
Pada saat ini tersedia banyak jenis obat asma yang dapat diperoleh di Indonesia, tetapi hal ini tidak mengurangi jumlah penderita asma. Beberapa negara melaporkan terjadinya peningkatan morbiditas dan mortalitas penderita asma (Taufik et al 1999). Hal ini antara lain disebabkan karena kurang tepatnya penatalaksanaan atau kepatuhan penderita. Oleh karena itu, makalah ini disusun untuk memberikan informasi mengenai penyakit asma berupa penyebab dan faktor risiko serta alternatif pencegahan dan pengobatan baik dari segi klinis maupun terapi diet. 
Stadium ASMA
Serangan asma mendadak secara klinis dapat dibagi menjadi tiga stadium, yaitu:
1. Stadium pertama ditandai dengan batuk-batuk berkala dan kering. Batuk ini terjadi karena iritasi mukosa yang kental dan mengumpul. Pada stadium ini terjadi edema dan pembengkakan bronkus. 
2. Stadium kedua ditandai dengan batuk disertai mukus yang jernih dan berbusa. Klien merasa sesak nafas, berusaha untuk bernafas dalam, ekspirasi memanjang diikuti bunyi mengi (wheezing). Klien lebih suka duduk dengan tangan diletakkan pada pinggir tempat tidur, penberita tampak pucat, gelisah, dan warna kulit sekitar mulai membiru. 
3. Stadium ketiga ditandai hampir tidak terdengarnya suara nafas karena aliran udara kecil, tidak ada batuk, pernafasan menjadi dangkal dan tidak teratur, irama pernafasan tinggi karena asfiksia (Nurafiatin A,  Ayu ES, Mabruroh  F, & Fauziah N 2007
Gejala ASMA
Secara umum gejala asma adalah sesak napas, batuk berdahak dan suara napas yang berbunyi ngikngik (mengi) dimana seringnya gejala ini timbul pada pagi hari menjelang waktu subuh, hal ini karena pengaruh keseimbangan hormon kortisol yang kadarnya rendah ketika pagi dan berbagai faktor lainnya.
Penderita asma akan mengeluhkan sesak nafas karena udara pada waktu bernafas tidak dapat mengalir dengan lancar pada saluran nafas yang sempit dan hal ini juga yang menyebabkan timbulnya bunyi ngik-ngik pada saat bernafas, dan batuk, khususnya pada malam atau dini hari. Pada penderita asma, penyempitan saluran pernafasan yang terjadi dapat berupa pengerutan dan tertutupnya saluran oleh dahak yang diproduksi secara berlebihan dan menimbulkan batuk sebagai respon untuk mengeluarkan dahak tersebut.
Berdasarkan etiologinya, asma dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu: Asma ektrinsik (atopi) ditandai dengan reaksi alergi terhadap pencetus-pencetus spesifik yang dapat diidentifikasi seperti: tepung, debu, bulu binatang, susu, telur, ikan, obat-obatan, serta bahan-bahan alergen yang lain. Sedangkan asma intrinsik (non atopi) ditandai dengan mekanisme non alergik yang bereaksi terhadap pencetus yang tidak spesifik seperti: Udara dingin, zat kimia yang bersifat sebagai iritan seperti: ozon, eter, dan nitrogen, perubahan musim dan cuaca, aktifitas fisik yang berlebih, ketegangan mental serta faktor-faktor intrinsik lain (Nurafiatin A,  Ayu ES, Mabruroh  F, & Fauziah N 2007).
Patofisiologi Penyakit ASMA




Individu dengan asma mengalami respon imun yang buruk terhadap lingkungan mereka. Antibodi yang dihasilkan (IgE) kemudian menyerang sel-sel mast dalam paru. Pemajanan ulang terhadap antigen mengakibatkan ikatan antigen dengan antibodi, menyebabkan pelepasan produk sel-sel mast (disebut mediator) seperti  histamin, bradikinin dan prostaglandin serta anafilaksis dari substansi yang bereaksi lambat (SRS-A). Pelepasan mediator ini dalam jaringan paru ini akan menyebabkan timbulnya tiga reaksi utama yaitu: kontraksi otot-otot polos baik saluran nafas yang besar ataupun yang kecil yang akan menimbulkan bronkospasme, peningkatan permeabilitas kapiler yang berperan dalam terjadinya edema  mukosa yang menambah semakin menyempitnya saluran nafas, peningkatan sekresi kelenjar mukosa dan peningkatan produksi mukus. Tiga reaksi tersebut menimbulkan gangguan ventilasi, distribusi ventilasi yang tidak merata dengan sirkulasi darah paru dan gangguan difusi gas ditingkat alveoli, akibatnya akan terjadi hipoksemia, hiperkapnea dan asidosis pada tahap yang sangat lanjut (Nurafiatin A,  Ayu ES, Mabruroh  F, & Fauziah N 2007). 
Pengobatan Penyakit ASMA secara Terapi Klinis
Tujuan pengobatan asma adalah agar penderita dapat hidup normal, bebas dari serangan asma serta memiliki faal paru senormal mungkin, mengurangi reaktifasi saluran napas, sehingga menurunkan angka perawatan dan angka kematian akibat asma (Surjanto, Hambali & Subroto 1988). Suatu kesalahan dalam penatalaksanaan asma dalam jangka pendek dapat menyebabkan kematian, sedangkan jangka panjang dapat mengakibatkan peningkatan serangan atau terjadi obstruksi paru yang menahun. Untuk pengobatan asma perlu diketahui juga perjalanan penyakit, pemilihan obat yang tepat, cara untuk menghindari faktor pencetus. Dalam penanganan pasien asma penting diberikan penjelasan tentang cara penggunaan obat yang benar, pengenalan dan pengontrolan faktor alergi. Faktor alergi banyak ditemukan dalam rumah seperti tungau debu rumah, alergen dari hewan, jamur, dan alergen di luar rumah seperti zat yang berasal dari tepung sari, jamur, polusi udara. Obat aspirin dan anti inflamasi non steroid dapat menjadi faktor pencetus asma. Olah raga dan peningkatan aktivitas secara bertahap dapat mengurangi gejala asma. Psikoterapi dan fisioterapi perlu diberikan pada penderita asma.

Obat asma digunakan untuk menghilangkan dan mencegah timbulnya gejala dan obstruksi saluran pernafasan. Pada saat ini obat asma dibedakan dalam dua kelompok besar yaitu reliever dan controller.
1.      Reliever adalah obat yang cepat menghilangkan gejala asma yaitu obstruksi saluran napas .
2.      Controller adalah obat yang digunakan untuk mengendalikan asma yang persisten. Obat yang termasuk golongan reliever adalah agonis beta-2, antikolinergik, teofilin,dan kortikosteroid sistemik (Surjanto, Hambali & Subroto 1988). Obat yang termasuk dalam golongan controller adalah obat anti inflamasi seperti kortikosteroid, natrium kromoglikat, natrium nedokromil , dan antihistamin aksi lambat (Rogayah 1995)
Pengobatan asma secara cepat/jangka pendek yaitu dengan menggunakan obat pelega saluran pernafasan seperti inhaler dan nebulizer yang berfungsi menghentikan serangan asma. Pengobatan jangka panjang yang berfungsi untuk mencegah terjadinya serangan asma adalah dengan menggunakan obat-obatan seperti steroid berfungsi untuk tetap membuat saluran pernafasan terbuka dan mengurangi pembengkakan (Abidin & Angela M  2002).
Anjuran Gizi untuk Penyakit ASMA

Makanan yang dihindari oleh penderita asma:
1. Makanan yang dapat menyebabkan reaksi alergi seperti telur, susu, gandum, ikan, kerang, kacang-kacangan, kedelai dan kacang tanah,
2. Makanan yang mengandung sulfida seperti acar, sayuran dan buah-buahan kering, dan udang.
3.  Makanan yang menyebabkan produksi lendir berlebih seperti gula putih, tepung putih, roti putih dan coklat.
4.  Makanan dengan pewarna buatan, dan  makanan yang diawetkan.
 “Sebaiknya memperbanyak asupan yang dapat membantu mengurangi gejala-gejala asma, seperti sayur-sayuran, buah-buahan, dan makanan yang kaya akan asam lemak omega-3. Olahraga teratur akan memperkuat paru-paru dan meningkatkan kualitas kesehatan sehingga dapat mengurangi gejala asma.”

DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Angela M. 2002. Mengenal, Mencegah dan Mengatasi Asma pada Anak Plus Panduan Senam Asma. Jakarta: Puspa Swara.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia (DepKes R.I.), 2009. Profil Kesehatan Indonesia 2008. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Guyton & Hall. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC
Nurafiatin A,  Ayu ES, Mabruroh  F, dan Fauziah N. 2007. Patofisiologi Asma. Universitas Sumatera Utara.
Rachelefsky, Gery M D and Patricia Garrison. 2006. Penanganan Asma pada Anak. Jakarta : PT. Buana Ilmu Populer.
Rogayah R. 1995. Penatalaksanaan asma bronkial prabedah. J Respir Indo 15:177-81.
Surjanto E, Hambali S, Subroto H. 1988. Pengobatan jalan untuk asma. J Respir Indo 8:30-35.
Taufik, Yunus F, Nawas A, Mangunnegoro H. 1999. Kematian pada asma bronkial. J Respir Indo 19: 119-124.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar